Jumat, 28 Juni 2013

Far.. Far.. Goettingen

Tulisan kali ini berisi cerita pengalaman tak terlupakan sekitar 7 pekan yang lalu. Benar-benar pengalaman berharga… (buat penulis..:))

Melakukan perjalanan ke luar negeri, apalagi perjalanan sejauh daratan Eropa, merupakan hal yang baru bagi saya. Saya belum pernah ke luar negeri sekalipun. Perjalanan panjang pertama ini harus saya lalui sendiri menuju Goettingen, Jerman. Dengan bekal sedikit keberanian dan bahasa inggris ala kadarnya dimulailah perjalanan panjang.


Sehari sebelum berangkat tiba-tiba badan terasa meriang, padahal packing barang-barang belum selesai. Beruntung, suami sangat perhatian sehingga semua barang diurus dengan sangat baik. Dan saya hanya bisa tidur malam itu. Kata orang, sakitnya itu mungkin stress sebelum berangkat.. Keesokan paginya saya menyempatkan waktu untuk ke dokter karena kondisi badan belum pulih. Sempat terpikir untuk membatalkan perjalanan, tapi mau bagaimana lagi, tiket sudah dibeli. The show must go on.. Maju terus pantang mundur..:)

Rute perjalanan dengan pesawat adalah Jakarta-Singapura-Frankfurt. Berangkat dari Jakarta dengan penerbangan malam, pukul 20.25, sepertinya akan sangat pas untuk beginner seperti saya karena direncanakan akan tiba pukul 06.30 pagi waktu Frankfurt. So, kalaupun ada keterlambatan dan kebingungan-kebingungan masih ada waktu untuk mengejar waktu tiba sebelum matahari terbenam di Goettingen.

Penerbangan dari Jakarta menuju Singapura sebenarnya relatif lancar, hanya saja mundur sekitar 15 menit dari jadwal. Baru saja keluar dari belalai di gerbang bandara di Singapura, banyak sekali orang dari maskapai yang berteriak mencari penumpang lanjutan dari pesawat yang saya tumpangi ke Narita, Tokyo dan beberapa kota lain. Tapi sayangnya tidak ada yang berteriak Frankfurt.. Saya sangat bingung saat itu. Hallo, saya juga perlu bantuan.. (ikut teriak dalam hati..:)). Setelah bertanya ke beberapa orang berseragam, akhirnya ada yang mengarahkan lurus saja. Kebetulan di depan saya ada beberapa orang yang juga berjalan tergesa-gesa. Dengan percaya diri saya ikuti mereka dari belakang. Setelah diikuti berapa waktu semakin lama semakin tidak jelas karena arah yang saya ikuti merupakan daerah tunggu. Parahnya saya tidak bertanya dulu sebelumnya ke rombongan yang saya ikuti itu. Akhirnya saya mampir ke bagian informasi dan bertanya tentang gerbang mana yang harus saya ambil. Setelah mencari sesuatu di komputernya, mba informan menjelaskan bahwa saya harus bergegas karena pesawat sudah boarding. Saya harus segera menuju terminal 3 gerbang A4, dan untuk menuju ke sana harus menggunakan skytrain. Sebagai orang baru sekali mampir ke Singapura tentu bingung sekali. Skytrain itu apa, naiknya darimana. Hihi, bener-bener ndeso.. Untunglah ada beberapa tanda dan tulisan. Ternyata Skytrain itu seperti monorail (yang nantinya ada di Jakarta) yang mengantarkan kita dari satu terminal ke terminal lain.

Sesampainya di tempat yang ditunjukkan, saya diberitahu bahwa penerbangan saya dari Jakarta terlambat yang menyebabkan akhirnya saya tertinggal pesawat ke Frankfurt. Huah.. Sedikit panik, tetapi mencoba tetapcool..:) Pilihan untuk transit di Singapura selama 1 jam saja supaya tidak menunggu lama ternyata agak kurang pas, saya tidak mengira terlambat sedikit saja maka berantakanlah semua rencana. Pihak maskapai menawarkan untuk ikut penerbangan ke Zurich, lalu setelah itu ke Frankfurt dengan perkiraan waktu sampai Frankfurt pukul 10.30. Waktu diberitahu akan mampir ke Zurich, yang ada di pikiran saat itu adalah Zurich ituanother city di Jerman. Setelah istirahat sebentar, baru ‘ngeh’ kalau Zurich itu di Swiss bukan di Jerman. Yeay, mampir ke Swiss.. Haduh ini ketinggalan pesawat bukannya sedih, malah senang.. Sebenarnya saat itu, saya bingung harus merasa senang atau sedih, jadi tidak ada rasanya..:)

Terbanglah saya ke Zurich dengan sebagian besar orang-orang berambut kuning dan coklat. Dari atas pesawat, sempat terlihat satu kawasan putih bergelombang dan berkabut yang ditunjukkan di dalam peta berupa daerah putih. Sepertinya pesawat sedang berada di atas pegunungan Alpen. Wow, pemandangan yang bagus.. Setelah perjalanan yang membuat lelah luar biasa selama ±13 jam, akhirnya sampai juga di Zurich. Bandara Zurich merupakan bandara besar yang sangat tenang dan teratur. Kondisi bandara sangat berbeda dengan Soekarno-Hatta, apalagi Changi yang super ramai. Udara dingin langsung menyergap, sangat terasa apalagi buat saya yang berasal dari tropis. Padahal saya tiba di akhir musim semi. Walaupun hanya transit 1 jam-an ternyata tetap harus melewati petugas imigrasi yang menanyakan tujuan dan alasan kita pergi ke Jerman. Dan setelah itu, stempel Swiss mendarat di passport. Yah, paling tidak sudah ada buktinya saya pernah menginjakkan kaki di Swiss..:)


(foto dokumen pribadi)

Ternyata bukan hanya saya yang tertinggal pesawat di Singapura. Keterlambatan 15 menit ini benar-benar bencana buat beberapa orang.  Di Zurich, saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang ternyata dalam satu pesawat yang sama menuju Zurich. Pesawat Airbus Singapore Airlines memang besar, sampai tidak terdeteksi ada orang Indonesia lain di sana. Tujuan mereka selanjutnya adalah ke Paris, Stuttgart atau Frakfurt. Alhamdulillah, ternyata saya tidak sendiri, saya dapat teman perjalanan ke Frankfurt. Pak dokter (yang saya lupa namanya) beserta keluarga yang ingin liburan mengenang masa-masa indahnya di Jerman waktu kuliah dulu. Dan terbanglah kami ke Frankfurt.

Bandara Frankfurt merupakan bandara besar yang sangat ramai. Tapi banyaknya petunjuk membuat panduan yang sangat jelas untuk setiap orang yang ada di sana. Apalagi ada Pak dokter yang sepertinya sudah hapal betul bandara ini. Jadi lancar perjalanan menuju tempat claim bagasi. Saya sangat tidak menyangka bahwa bagasi saya akan sangat cepat keluar. Sebelumnya sempat khawatir akan kesulitan memperoleh bagasi disebabkan adanya proses transfer tambahan ke Zurich. Hal yang sama juga dikhawatirkan Pak dokter. Apalagi ketika di Zurich, tas kabin saya sempat ditahan karena kebesaran, dan akhirnya harus masuk bagasi. Tidak lama menunggu, kedua tas saya langsung meluncur mencari pemiliknya..:)

Target selanjutnya adalah mencari stasiun karena saya akan naik fernbanhoff atau kereta cepat dari stasiun Frankfurt yang terhubung dengan bandara di Frankfurt menuju stasiun Goettingen. Membeli tiket kereta ini merupakan satu hal yang membuat saya sangat khawatir ketika akan berangkat. Sudah sempat baca petunjuknya bahkan diperlihatkan youtube nya (bukan saya yang melihat, tapi suami..hehe). Kabarnya agak ribet prosesnya. Alhamdulillah, datang pertolongan lagi. Ketika kami menunggu bagasi keluar, Pak dokter yang baik hati mengenalkan saya ke orang Indonesia lain yang ternyata satu pesawat juga. Waduh, kok saya tidak lihat mereka ya tadi. Padahal pesawat dari Zurich ke Frankfurt ini pesawat  berukuran sedang. Ternyata mereka ada acara di Kӧln dan harus segera sampai di sana. Jadi mereka juga memilih kereta cepat. Wah, leganya… Hehe.. Ini lega karena dapat teman, bukan lega karena mereka nyaris terlambat. Pak dokter dan keluarganya akan berkeliling di Frankfurt dengan mobil sewaan, jadi berpisahlah kami di sana.

Dari bandara ke stasiun sebenarnya tidak jauh, tapi naik turun eskalator dengan membawa tas super besar bukanlah perkara mudah. Sesampainya di stasiun, pandangan langsung mencari mesin penjual tiket. Iya, pakai mesin. Makanya sampai ada video yang diupload di youtube tentang cara membeli tiket. Agak bingung ketika pertama kali mulai, tapi ternyata jika mengikuti petunjuk yang tertera di mesin semua menjadi mudah. Dan yang bikin mudah sebenarnya adalah kehadiran dua teman baru ini. Akhirnya kami berpisah setelah membeli tiket kereta. Yup, kereta akan datang pukul 12.40. Saya masih punya waktu ± 1 jam untuk menghalau lapar dan haus dengan bekal yang dibawa sambil menikmati pemandangan stasiun kereta Frankfurt ini. Paling tidak menikmati lalu lalang banyak orang dari berbagai bangsa dengan berbagai urusannya. 


(foto dokumen pribadi)

Pukul 12.35, kereta cepat (ICE) pun tiba. Lebih cepat dari jadwal ternyata. Karena biasa naik kereta yang telat, saya bingung juga. Apa benar ini keretanya? Setelah pintu sedikit terbuka, di dalam ada tulisan Goettingen. Berarti memang ini kereta yang saya tunggu. Kereta yang saya naiki ini hanya berhenti di 3 tempat, yaitu Kassel, Goettingen dan Hamburg Attona. Alhamdulillah dapat duduk, ternyata sering juga ada kasus tidak kebagian tempat duduk di kereta. Sepanjang perjalanan menaiki kereta selama 2 jam, pemandangan begitu memberi kesan. Paling tidak untuk saya yang baru sekali ini ke Jerman (bahkan keluar negeri, catat..:)). Sebagian besar daerah yang dilalui merupakan daerah hijau, baik berupa hutan, lahan pertanian, perkebunan maupun daerah perumahan. Serasa bukan di negara maju, mengingat hijaunya pemandangan. Rasanya capek sekali dan sesekali rasa mengantuk mulai menyapa, namun saya tak boleh tidur. Bisa-bisa nyasar ke Hamburg kalau ketiduran.. Wah, bisa jadi masalah baru..

Akhirnya sampai juga di stasiun Goettingen. Saya sempat terkesima mengingat akhirnya sampai juga di tempat yang sudah berbulan-bulan ini ada di dalam pikiran, walaupun tidak sampai terbawa mimpi...:) Udara terasa bertambah dingin setelah turun dari kereta. Sesaat melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang akan menghampiri. Tapi ternyata tidak ada. Memang mundurnya jadwal penerbangan ini sangat mengganggu. Ditambah lagi saya tidak bisa menghubungi beberapa orang yang kemungkinan bisa menjemput karena pulsa yang habis terkena roaming setelah menerima beberapa telepon sebelumnya. Padahal saya sudah lebihkan pulsanya. Ya, seharusnya ada yang menjemput. Seorang teman yang beberapa bulan ini kenalan difacebook (mudah-mudahan orangnya masih ingat..:)) ataupun Professor saya sudah siap menjemput. Bahkan teman saya ini sudah sempat ke stasiun, tapi berhubung tidak ada kabar dari saya akhirnya dia kembali dan ternyata sempat menanyakan saya akan tiba pukul berapa. Yah sudahlah, mau tidak mau ya harus cari alamat sendiri. So, target selanjutnya adalah mencari taksi di depan stasiun.

Saya dikabari melalui pesan singkat dari suami bahwa saya harus mengambil kunci kamar di kantor Profesor pembimbing. Ternyata sang Professor berinisiatif membantu mengambilkan kunci dari pengelola apartemen. Beliau sudah berkirim email dengan suami selama saya di perjalanan. Aaghh.. saya baru sadar bahwa saya tidak tahu alamat kantornya.. Yang saya hafal hanya alamat apartemen saya di Goettingen karena saya memang bertujuan langsung ke kamar di apartemen. Dalam kondisi baru datang dari jauh dengan perjalanan yang super panjang kan tidak mungkin mencari Profesor di kampus. Inisiatif yang malah membuat cerita tambah seru.:) Dan episode selanjutnya adalah terjadinya perbincangan yang membingungkan antara saya yang tidak tahu alamat yang dituju dengan sopir taksi yang tidak lancar bahasa Inggris. Yah… Ga nyambung, putus-putus, salah tangkap, deelel. Hehe.. Lucu juga kalau diingat-ingat.  Alhamdulillah, saya dapat sopir taksi bapak tua yang sabar. Di tangan saya pada saat itu hanya ada panduan hidup di Goettingen dari universitas, yang setelah dibolak-balik berkali-kali ternyata ada alamat pihak administrasi fakultas pertanian. Dan meluncurlah kami ke sana.

Setelah sampai di alamat yang dituju, saya bingung ternyata tidak ada nama kantor di sana. Yang ada hanya bangunan dengan nomor. Paling tidak itu yang saya ingat di tengah kebingungan saya. Tiba-tiba lewatlah seseorang yang dari gayanya sepertinya dosen. Saya menanyakan alamat kantor administrasi fakultas pertanian, yang dijawab dengan bahasa inggris yang sangat super duper fasih (lebay..hehe). Beliau ini bicara dengan dialek seperti di rekaman toefl dan sangat lancar yang intinya, “kok bisa sih ga tau alamat, pleasedeh..”. Saya baru sadar, dengan dialek seperti itu dia pasti bukan orang Jerman. Sambil terbengong-bengong mendengarkan caranya berbicara, saya cuma bisa menjawab pasrah, “iya pak saya memang tidak tahu”. Akhirnya beliau menunjukkan bahwa di kawasan itu adalah kawasan fakultas kehutanan. Satu-satunya ruangan yang ada hubungannya dengan fakultas pertanian ada di gedung no. 5. Benar-benar pengalaman berharga buat saya agar lebih banyak persiapan ketika bepergian apalagi bepergian jauh. Memastikan alamat, bahkan beberapa alamat yang berhubungan dengan tujuan. Sebaiknya juga mencatat nomor telepon orang-orang yang berkepentingan di tempat tujuan.

Dengan semangat yang sudah berkurang setengahnya, masuklah saya ke dalam gedung dan mencari ruangan yang dimaksud. Setelah mencari-cari, ternyata di depan sebuah ruangan ada sebuah nama yang sangat akrab selama beberapa bulan ini, yaitu penasehat akademis mahasiswa internasional yang selama ini berkomunikasi dengan saya lewat email. Dan setelah pintunya diketuk ternyata ada orangnya. Alhamdulillah, beliau ada di tempat. Menemui beliau itu sebenarnya ada jam-jamnya, tidak bisa ditemui sepanjang waktu kantor. Hal yang sama berlaku juga di beberapa kantor di Jerman. Setelah perbincangan singkat, ternyata beliau dengan baik hati menawarkan saya menuju kantor sang Profesor dengan mobilnya. Alhamdulillah..

Akhirnya, bertemu juga saya dengan Profesor Link, pembimbing saya yang selama ini hanya berkomunikasi lewat email. Ternyata orangnya sangat baik dan perhatian. Beliau cukup heran melihat betapa ‘imutnya’ saya karena dia harus menunduk untuk bisa melihat saya..:) Beliau mengantarkan saya ke apartemen dan mengajarkan beberapa hal kecil, seperti cara menyalakan lampu, membuka jendela dan lain-lain, yang tujuannya agar saya, yang dari negeri antah berantah ini, tidak kebingungan dengan hal-hal tersebut. Setelah bertemu dengan beberapa orang Jerman yang banyak membantu, saya jadi tahu bahwa gambaran tentang dinginnya orang Jerman yang selama ini saya dengar tidak sepenuhnya benar. Memang pengalaman itu sangat mahal harganya.

Setelah perjalanan lebih dari 24 jam, akhirnya saya sampai di kamar, beristirahat dan menikmati kesendirian. Huff.. Alhamdulillah, saya bisa menjalani perjalanan jauh ini dan sampai dengan selamat, banyak sekali bantuan dari arah yang tidak terduga. Dan dalam kesendirian, saya merenung… Ternyata ini bukan akhir perjalanan, justru perjalanan baru dimulai. This is only the beginning. I hope the future would become very nice to me… Bismillah..:)

11 komentar:

  1. Senangnya bisa ke luar negeri,, salam kenal mbak^^

    BalasHapus
  2. Winda sangat beruntung nih, sekali merasakan ke LN lansung ke Frankfurt, negara di Eropah. Asyiiik. Pengalaman pertama bunda naik pesawat cuman ke Bangkok/Vietnam dan Philippines. Hehehe...itupun kalo bukan karena urusan kantor, gak bakal deh naik pesawat. Bersyukur banget wlp cuma negara di Asia, bisa terbang tanpa sayap, hehehe... Postingan Winda yang panjang banget, tapi males tuh ninggalinnya, karena ceritanya menarik banget. Salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bunda, mau bersabar membaca tulisan ini.. Mau diringkas, sayang karena semua berkaitan.. Alhamdulillah, ini juga tugas bunda, jadi bisa dapat pengalaman ini..:)

      Hapus
  3. Mba Winda tulisannya bagus. Sampe ikut deg2an juga takut ketinggalan pesawat. Hahaha... saya pernah ngalamin lari2 krn pesawat sudah boarding sementara romobongan umroh masih di belakang karena urusan tetek bengek imigrasi. Tapi kayaknya dirimu tetep cool ya, kalo saya pasti udah riweuh duluan. Qiqiqi... semoga betah ya mba di tempat barunya. Salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih juga mba, memang berharga banget pengalaman kemarin itu.. Sebenarnya juga panik n stress, gayanya aja yang di bikin 'cool'..:)

      Hapus
  4. Mbak. Duly alumni ipb ya?.


    He he.

    BalasHapus
  5. Hai mbak. Kebetulan saya bulan agustus ini bakal terbang ke göttingen. Kira2 sommer di göttingen itu seberapa panas ya mbak? Danke

    BalasHapus
  6. Hai mbak. Kebetulan saya bulan agustus ini bakal terbang ke göttingen. Kira2 sommer di göttingen itu seberapa panas ya mbak? Danke

    BalasHapus